OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :(021) 3156480
IPNU Sebagai Kontrol  Delinkuensi

Ikatan Pelajar Nahdlatul  Ulama atau yang disingkat IPNU adalah sebuah organisasi pelajar Nahdliyyin yang berdiri pada tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. IPNU adalah salah satu organisasi dibawah naungan Jam’iyah Nahdlatul Ulama, tempat berhimpun, wadah komunikasi, wadah aktualisasi dan wadah yang merupakan bagian integral dan potensi generasi muda Indonesia secara utuh. Itulah sedikit ulasan mengenai IPNU yang termuat dalam salah satu web terpercaya di Indonesia yaitu wikipedia.com.

Secara umum IPNU merupakan wadah pelajar muslim sebagai sarana untuk mengaktualisasi diri dan mengembangkan potensi yang ada pada diri setiap pelajar. Para anggota IPNU yang terdiri dari berbagai tingkatan sekolah, baik itu sekolah menengah pertama, menegngah atas, bahkan tingkat kuliah menjadikan kemanfaatan IPNU sebagai sarana transfer informasi maupun sharing pengalaman antara sesama anggotanya. Jelas hal itu sangatlah berguna bagi rekan-rekanita yang berusia muda untuk mengambil ilmu dari rekan-rekanita yang sudah duduk di jenjang sekolah yang  lebih tinggi. Selain itu, organisasi ini juga berisi program yang sangat positif baik dari jenis pelatihan seperti, pelatihan hadroh, marawis, jurnalis dan sebagainya, juga dari sisi pengabdian seperti, bakti sosial, kerja bakti, mengadakan bazar dan lain sebagainya.

Melihat keadaan diwaktu sekarang ini, kondisi pergaulan pemuda terkhusus para pemuda yang berada di jalanan, mereka hidup dalam kebebasan sehingga tidak ingat lagi orang-orang yang harus dihormati. Bahkan kedua orangtua yang bertanggung jawab kepada Allah SWT  tidak dianggap lagi keberadaanya, tidak dianggap lagi sebagai orang yang telah melahirkan dan merawatnya. Nasihat-nasihat tidak bisa masuk  ke sanubari  mereka karena tertutupinya mata hati mereka.

Biasa kita lihat kumpulan orang berbodong-bondong menggunakan atribut  kebangaan masing-masing di lampu merah atau tempat umum lainnya guna memberhentikan kendaraan bak terbuka untuk dijadikan tumpangan. Selain itu, perbedaan gender bukan lagi batasan bagi mereka, anting-anting dan tato pada tubuh dijadikan sebagai sarana untuk membanggakan diri dan membuat takut orang yang melihatnya, fasilitas umum menjadi sasaran, halte-halte, lampu merah dengan asyiknya dicoret-coret dengan tujuan menunjukan almamater mereka. Dalam bahasa hukum perilaku yang terilustrasikan diatas disebut sebagai delinkuensi.

Pengertian delinkuensi secara garis besar adalah kejahatan/pelanggaran yang dilakukan oleh orang yang belum dewasa. Sedangkan menurut KBBI, delinkuensi  diartikan sebagai tingkah laku yang menyalahi secara ringan norma dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat. Berbeda lagi dengan pandangan dari kacamata psikologi, menurut dosen psikologi Universitas Gajah Mada Bimo Walgito mengartikan bahawa juvinile delinquency sebagai tiap perbuatan yang  jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan, jadi merupakan perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh anak, khusunya remaja.

Remaja merupakan periode dimana terjadinya proses peralihan dari periode  anak-anak menuju dewasa. Sehingga para remaja melakukan segala cara untuk mencari jati diri masing-masing maupun kelompok. Rasa penasaran yang berlebihan dapat mengantarkan remaja kearah perubahan yang bersifat negatif, oleh karena itu sangat diperlukan pengawasan dan bimbingan dari orangtua dan lingkungan sekitarnya.

Yang tidak kalah penting dari salah satu faktor delinquen adalah pengaruh dari globalisasi dan modernisasi beserta teknologi telah menyebabkan perubahan-perubahan begitu cepat diberbagai aspek kehidupan manusia, baik dari ekonomi, politik, maupun lifestyle masyarakat. Perubahan tersebut berupa perubahan positif maupun negatif, semua orang bebas menggunakanya, batasan hukum yang sudah ada belum bisa mengakomodir masalah-masalah yang terjadi, buktinya para pengguna teknologi masih terbawa pengaruh negatif dari teknologi. Misalkan dari internet pengguna masih leluasa membuka konten-konten negatif.

Di­era kemajuan teknologi inilah remaja dituntut untuk mampu melakukan penguasaan teknologi dan ilmu umum lainya. Remaja harus mampu menghadapi tuntutan lingkungan untuk ikut serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Namun, disisi lain remaja juga harus menyesuaikan terhadap dirinya sendiri, hal ini dikarenakan pada masa ini terjadi perubahan fisik dan psikis yang signifikan sehingga diperlukan adaptasi ekstra untuk menyesuaikan diri.

Secara umum periode ini merupakan dalam kondisi normal masa ini merupakan masa yang sulit ditempuh, baik secara individual maupun kelompok sehingga kelompok ini sering dikatakan kelompok umur yang bermasalah (the trouble teens). Salah satu kelompok yang rentan terbawa arus globalisasi dan modernisasi adalah remaja, mereka mempunyai karakteristik unik; labil.

Di berbagai kota besar, sudah menjadi pengetahuan umum  bahwa ulah remaja belakangan ini semakin mengerikan dan mencemaskan masyarakat. Mereka tidak lagi terlibat dalam aktivitas nakal biasa seperti membolos sekolah, tongkrongan, merokok, menggoda lawan jenis dan sebagainya, Namun belakangan ini mereka diketahui terlibat dalam aktivitas nakal yang lebih dari biasanya seperti minum minuman keras, tawuran layaknya preman bahkan ada yang terjerumus penggunaan NAPZA sampai pergaulan seksual diluar nikah dan berbagai perilaku nakal lainya.

Kondisi demikian sangat mengkhawatirkan nasib bangsa, dimana generasi muda terombang-ambing hingga terjerumus ke perkara negatif. Maka dari itu, sangatlah diperlukan organisasi wadah remaja dalam mencari identitas dan membantu untuk berperan aktif dalam pembangunan lingkungan. Kemanfaatan IPNU ataupun organisasi sejenisnya seperti sumber air di padang pasir yang menjadi controling bagi remaja dalam berproses ditengah-tengah globalisasi dan modernisasi diera sekarang ini.

IPNU sebagai organisasi kepemudaan diharapkan mampu menjawab permasalahan para orangtua dalam mengkawalkan anak-anaknya. Caranya dengan menjadi  wadah bagi para pemuda agar bisa berproses dengan baik dan menjadi dewasa, berkepribadian mulia dengan memberikan aktivitas-aktivitas positif yang bermanfaat bagi individu anak sendiri maupun bagi orang lain, serta mampu megontrol aktivitas penggunaan teknologi dengan  sembarangan yang menjadikan delinquen  marak terjadi di Indonesia, kader-kader bangsa yang mempunyai jiwa agamis dan juga nasionalis yang menjadi penerus perjuangan bangsa dalam mewujudkan bangsa yang sejahtera.

Oleh : Moch. Andi Apriyanto

Editor: Humam Fauyi

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar