OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Keseimbangan Hidup Dan Teknologi
Ig : Abdullah_evindar

Apa itu generasi millenial?  generasi millenial merupakan generasi yang terlahir dari tahun 1984-mereka memiliki salah satunya ciri self interest yang tinggi seperti contohnya sikap narsis. Dampak teknologi diantaranya membuat kita tumbuh dalam dunia facebook-instagram. Yang mana kita bisa hebat dengan hanya menggunakan filter ke banyak hal yang terunggah. Kita hebat dalam pamer ke orang lain bahwa “hidup ini menajubkan” dengan sederetan caption-caption yang aduhai. Padahal kenyatanyaa “Aku sedang depresi,” “aku sedang iri dengan mereka,” kebanyakan orang terlihat tegar  namun kenyataannya sedikit.

Kita tahu penggunaan lebih dengan media sosial dan ponsel memungkinkan menghasilkan bahan kimia yang disebut dopamin-yang timbul di dalam otak kita masing masing. Itu sebabnya kalau kita dapat WhatsApp atau notifikasi aplikasi medsos terasa enak. Kita semua tahu kalau kita merasa sedikit down  atau kesepian . Kita bisa kirimkan 10 kontak WhatspApp ke teman kita atau paling tidak kita bikin snap “yang online japri,” soalnya enak karena mendapatkan respon berupa notifikasi, iya bukan? itulah sebabnya zat yang dinamakan dopamin tersebut membuat kita sering menghitung hitung likes, sering kembali cek HP sampai beberapa kali hanya untuk melihat-apakah akun instagram saya dilihat banyak orang atau tidak ? apakah postingan saya bagus atau jelek? apakah mereka tidak menyukai saya karena postingan saya? follower saya bertambah atau berkurang? ya semua tahu karena jika mendapatkan notifikasi yang bertanda merah itu membuat kita merasa penasaran dan enak .

Dopamin merukan zat kimia yang sama yang membuat kita enak saat merokok atau menonton hal yang tidak pantas . Dengan kata lain ini sangat adiktif. Persoalan tak terbendungkan ialah media sosial dan internet tak memiliki batasan usia penggunaanya. Inilah persoalan yang sebenarnya terjadi . Sebagai bukti bahwa kita memiliki generasi yang memiliki akses ke akditif. Mati rasa karena zat kimia dompain.

Terlebih lagi ketika seorang individu remaja millenial mengalami fase stress yang signikan entah karena broken home, stress social, stress keuangan atau stress karir. Individu tersebut bisa saja tidak akan berpaling ke orang lain namun mereka beralih ke botol, sex bebas, dan narkoba. Ditambahlagi apa yang terjadi adalah karena semua individu tanpa terbatas usia memungkinkan akses tanpa batas ke perangkat dopamin yang tertanam pada media internet.

Kemudian apa yang terjadi ketika generasi millenial ini menginnjak dewasa? jawabannya ialah mereka di masa depan akan mengakui bahwa banyak dari persahabatan mereka dangkal.  Hubungan yang bermakna mendalam tidak ada karena mereka tidak berlatih keterampilan , dan lebih buruk lagi mereka tidak memiliki mekanisme untuk menghadapi stress.

Jadi ketika stress yang signifikan mulai  muncul mereka tidak beralih ke seseorang . mereka beralih ke perangkat, mereka beralih ke media sosial, beralih ke hal yang menawarkan bantuan sementara. Hal yang jelas bahwa orang yang menghabiskan lebih banyak di fb menderita tingkat depresi yang lebih tinggi daripada orang yang menghabiskan waktu sedikit. Bekomunikasi medsos tidak buruk namun jika lupa waktu dan kewajiban lain maka akan menjadi perilaku buruk.

 

Update status menyenangkan namun jika berlebihan sampai melewati batas nilai norma juga tidak baik. Tidak ada yang salah dengan media sosial dan ponsel.Kita hanya butuh “keseimbangan” dalam menghadapi terpaan dampak kemajuan IT . Anda sedang berkumpul makan malam bersama namun ketika semuanya fokus makan anda terlalu lama bermain HP , ini tidak seimbang. Anda bertemu kawan lama yang beberapa tahun belum berjumpa namun di acara reunian anda hanya diam sambil tiap tiap beberapa detik cek notif dengan tempo yang berlebihan-Ini tidak simbang. Anda bermain game berjam-jam sampai lupa ketika adzan dan tidak ibadah-ini tidak seimbang. Sebelum tidur anda chatting sampai mata berair dan merah sehingga susah tidur-juga tidak seimbang.

Sekarang masalah kecanduan kita gabungkan dengan ketidaksabaran. Mereka para remaja sudah kecanduan-beranjak dewasa dalam dunia kepuasan instan . Anda ingin beli sepatu anda bisa pergi took online. Barang tiba pada hari berikutnya. Anda ingin nonton film . Anda cuma login terus nonton. Segala sesuatu yang anda ingin dapat anda miliki seketika . Segala sesuatu yang anda inginkan, kepuasan instan, semuanya ada di era milenium.

Kecuali kepuasan kerja dan kekuatan hubungan. Tidak ada aplikasi untuk itu . Keduanya bersifat lambat . Berkelok kelok, tidak nyaman, proses berantankan,  ketika ada si A (sebagai genrasi millennial) fresh graduate dan bekerja-ketika di tanya oleh rekan kerjanya, “bagaimana kabarmu?,” kemudian A menjawab “Saya pikir saya akan segera berhenti dari pekerkejaan ini,”  rekannya membalas , “kenapa?,”  “saya tidak membuat dampak,”Anda padahal sudah bekerja di sini sudah cukup lama, 8 bulan” . Si A menunjukan seolah-olah dia seperti kaki gunung-dimana dia ingin proses untuk sampai di puncak berjalan cepat dengan dampak dampak yang membuat dirinya merasa diakui dan dipuji.

Si A memiliki pola pikir abstrak dimana mereka ingin berada di puncak gunung secara langsung atau artinya memiliki pengaruh yang kuat dan sesuai yang dicita-citakan. Mereka tidak menyadari bahwa mereka masih di kaki gunung. Seharusnya mereka harus belajar kesabaran . Entah cepat atau lambat mereka harus bergerak-karena gunung akan tetap berdiri. Belajar kesabaran berproses bagi generasi millenial ialah penting . Lebih dari itu juga ada yang sangat penting seperi cinta, kegembiraan, mencintai hidup, kepercayaan diri, kepuasan kerja, satu set keterampilan yang semuanya membutuhkan waktu tidak sebentar. Bagi millennial, temukanlah keseimbangan yang lebih baik antara hidup dan teknologi . Karena Terus terang prinsip itu adalah hal yang benar  dan baik untuk diterapkan. (Jean Iftitah)

author IPNU Kab. Purbalingga

Bukan Bagaimana Sukses tapi Bagaimana Bermanfaat

Komentar