OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Menangkal Ideologi Radikalisme

Oleh : Vinanda Febriani

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hai sahabat. Bagaimana kabar kalian ?. Semoga Allah selalu menyertai kalian kapanpun dan dimanapun kalian berada. Sahabat, kali ini saya akan mengajak sahabat semua untuk sejenak berfikir dan merenung. Tenang saja sahabat, ini bukanlah sebuah tekhnik hipnotis. Ini hanyalah bahan perenungan untuk kita semua, supaya kedepannya kita lebih bisa waspada dan berhati-hati.

Sahabat, apakah kalian mengenal ISIS?

Yups, ISIS (Islamic State Of Iraq and Syiria atau الدولة الإسلامية في العراق والشام ). Organisasi ini sangat berbahaya, sebab sudah terbukti terlibat dalam Perang Saudara Suriah, Perang Irak (2003–2011), Pemberontakan Irak, Perang Irak (2014–present), Perang Saudara Libya Kedua, Pemberontakan Boko Haram, Perang di Pakistan Barat Laut, Perang di Afghanistan, Perang Saudara Yaman, dan konflik lainnya.

Organisasi yang berdiri sejak tahun 2013 silam ini berada dibawah komando kepemimpinan Abu bakr Al-Baghdadi. Gerakannya sangatlah radikal dan ekstrem. Organisasi ini berisikan orang-orang yang menentang kepemerintahan iraq dan syiria. Target mereka adalah memperluas negara Islam mereka ke ranah dunia. Sehingga mereka terus mengadu domba antara golongan Syi’ah dan Sunni. Organisasi ini sudah meluas ke Libya, setelah pemimpin Muamar Qadhafi dikudeta dan dibunuh rakyatnya sendiri. Mereka tak henti-hentinya membunuh saudara sesama muslim, menghancurkan segala fasilitas negara yang ada, sehingga negara yang dikuasai ISIS tersebut hancur tanpa sisa.

Sahabat,.mari sejenak merenung. Saat ini ISIS tengah berada di Filipina tepatnya di kota Marawi yang jaraknya tak terlalu jauh dari negara kita tercinta ini, hanya dibutuhkan sekitar 9 jam untuk sampai Indonesia. Disana mereka terus meneror semua orang. Dengan senjata api dan baku tembak. Disana disebut Abu Sayyaf.

Apakah kalian masih mengingat tragedi baru-baru ini di Kampung Melayu, Jakarta Timur?.

Yup, menurut info yang saya dapat, ISIS telah mengaku bertanggung jawab atas tragedi “Bom Panci” yang menewaskan 3 orang Polisi, 2 orang tersangka dan belasan korban luka-luka. Ada segelintir oknum yang mengatakan bahwasanya ini merupakan pengalihan isu pemerintah. Namun, bagaimana  bisa disebut pengalihan isu? sedangkan pemerintah sendiri “Melaknat” siapapun yang melakukan hal keji semacam itu.

Sahabat yang berbahagia.

Yuk mari merenung sebentar. Saat ini di Indonesia sedang digemparkan dengan adanya konflik politik besar-besaran yang mengatasnamakan Agama Islam. Mereka selalu menyalahkan rakyat “Minoritas” yang bahkan tak mengerti apa yang sedang mereka (read. oknum politik) permasalahkan. Bahkan ada segelintir oknum yang menganggap bahwa NKRI, Pancasila dan Falsafah Ideologi Negara Indonesia ini tidaklah sesuai dengan Syari’at Islam “Ala pemikiran mereka”. Tanpa mengkaji lagi sejarah NKRI, mereka selalu berteriak mengharamkan hormat bendera, Upacara  bendera, Berjiwa Nasionalisme dan Patriotisme dan lain sebagainya. Sebab, mereka menganggap bahwasanya Pahlawan kita berjuang mempertaruhkan hal yang menurut mereka (read. oknum Gagal faham Khilafah) itu sebagai hal yang “Salah”.

Sahabatku semuanya.

Saya sangat berharap sahabat semua tidak mudah tergiur dengan janji-janji oknum penggila Khilafah. Sebab para Ulama kita sendiri tidak menyetujui berdirinya Khilafah islamiyah (Islam daulah) di Indonesia ini. Bagaimana mungkin Beliau (read. Ulama Nahdliyyin) merestui berdirinya Negara Daulah Islamiyah di Indonesia ini, sedangkan mereka (read. Ulama Nahdliyyin) telah mempercayai bahwasanya NKRI ini sudah sesuai dengan Syari’at Islam yang “shahih”. Para “Founding Fathers” pun sebagian besar merupakan Santri, dimana mereka telah Nyantri bersama para Ulama yang jelas sanad keilmuannya. Terbentuknya Negara Indonesia ini pun tak bisa lepas dari perjuangan para pahlawan Non-Muslim dan juga Do’a, Ikhtiyar para Alim ’Ulama di Nusantara ini.

Sahabat yang saya Cintai.

Kita telah berhadapan dengan fenomena “Akhir Zaman” dimana berbagai Fitnah keji telah banyak mengancam, para Ulama’ yang santun telah diambil oleh Allah SWT. Ummat semakin jauh dengan Ulama’ nya. Banyak oknum pemutar balikan Fakta, dan lain sebagainya.

Kawan,

Saat ini telah banyak beredar pendoktrinan ideologi Radikal, ideologi Islam garis keras, mereka saling meng-Kafirkan saudara se-Agamanya yang berbeda pendapat, pemahaman, pemikiran, amaliyah dan lain sebagainya. Golongan ini sering disebut golongan Takfiri, mereka dengan nyamannya mengatakan dan menfitnah saudaranya sendiri dengan kata “Kafir”. Seakan mereka adalah Tuhan yang berhak memutuskan bahwasanya si A Kafir, dia pasti masuk Neraka, sedang dia mengklaim dirinya sendirilah yang paling benar dan berhak mendapatkan “Legalitas lebel Surga”.

Disini, biasanya mereka sering menggunakan Ayat Al-Qur’an maupun Hadis sepotong yang mereka gunakan sebagai tameng Politik. Berbuat anarkis, atasnama perintah ayat Al-Qur’an / Hadis, Makar atas nama Al-Qur’an / Hadis. Perbuatan itu sangatlah tidak mencerminkan Islam yang Kaffah, Islam yang santun, Islam yang penuh Cinta dan Toleransi sesama manusia.

Ingatkah anda dengan tragedi Ibnu Muljam?

Yups, penghafal Al-Qur’an yang telah membunuh khalifah Ali dengan mengatasnamakan Agama Islam. Padahal, hanya berbeda pandangan politik saja sampai berani membunuh. Lalu, bagaimana jika berbeda Amaliyah berbeda pendapat, pemikiran dan lain sebagainya?. Ketika Ibnu Muljam membunuh Khalifah Ali, beliau (read. Ibnu muljam) mengatakan bahwasanya Hukum itu hanyalah milik Allah SWT saja, bukan milik Khalifah Ali. Yup, slogan yang tepat saat ini untuk menggambarkan sosok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka juga hampir sama dengan Islamic State (ISIS). Slogan mereka sama “Hukum hanya milik Allah”, Cita cita mereka sama “Khilafah” namun bedanya, ISIS sangat terang-terangan dan sangat ekstrem. Sedangkan Hizbut Tahrir masih baru (masih sedikit lembek). Namun, Hizbut Tahrir bisa saja menjelma menjadi ISIS ketika nanti Indonesia sudah mereka kuasai sepenuhnya.

Mereka selalu berslogan “Kembalikan ke Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Tapi bagaimana bisa para Awam jika harus mengartikan makna yang tercantum pada Al-Qur’an dan As-sunnah kalau tidak didasari Taqlid terlebih dahulu terhadap salah satu pendapat Imam madzhab 4. Wung, kita yang mengikuti pendapat imam madzhab saja terkadang keblinger, apalagi Awam yang tidak mengikuti pendapat Imam madzhab. Mereka mengartikan hukum Al-Qur’an dan As-sunnah sendiri tanpa harus merujuk kepada kutab-kitab kontenpoler milik Imam madzhab 4. Bahkan, ketika mereka menggunakan Hadis pun, mereka mengambil contoh hadis yang paling mudah untuk mereka, tanpa tau sanad dan rawinya, shahih atau dhoif kwalitas hadisnya.

Hal-hal seperti itulah awal mulanya yang menyebabkan Islam terpecah nenjadi berbagai macam pemahaman. Hanya karna “Kwalitas pemikiran seseorang”. Itu juga terjadi karna kesalahfahaman mereka terhadap suatu hadis yang mereka sendiri sampaikan. Sehingga, mereka mudah menganggap amalan ibadah seseorang yang tidak satu golongan dengannya adalah Salah. Inilah yang membuat Islam menjadi terpecah belah.

Kembali ke konflik Awal sahabat.

Saat ini jika kita lihat, Indonesia sedang mengalami krisis. Bukan krisis moneter, bahkan lebih dari itu. Yakni, “Krisis moral dan Akhlaq”. Kita butuh oknum yang berfikir kritis kedepan yang tentunya kritis secara positif, rasional dan juga berdasarkan Fakta yang ada. Nah, kawan marilah kita berfikir secara kritis positif, namun tetap santun dan ber-Akhlak. Saat ini Indonesia membutuhkan peran “Nyata” kita. Indonesia sudah mulai terpecah, beberapa penguasanya mulai sibuk dan menyibukan diri dengan jabatannya sampai mereka lupa dengan siapa yang telah menghantarkannya sampai ke kursi tertinggi dan menikmati betapa lezatnya sajian yang disebut “Jabatan”.  Masyarakatnya pun Egois, ingatkah kalian ketika demo Aksi 212 dan seterusnya ?. Yup, pasti kalian mendengar slogan “Pemimpin HARUS MUSLIM, korupsi tak apa yang penting MUSLIM”. Itu hanyalah kata-kata yang dilontarkan kaum egois. Jika dinalar, itu sangat tidak etis. Bagaimana mungkin ?. Lebih baik tak usah ada pemimpin jika harus memilih pemimpin yang Muslim namun Korupsi, itu nantinya malah meresahkan masyarakat yang dipimpinnya. Cobalah sedikit dinalar, kawan. Indonesia ini negara kesatuan, negara republik bukan negara Islam daulah ataupun negara yang cenderung kepada satu keyakinan saja. Ya, walaupun negara ini mayoritas penduduknya adalah Islam. Namun, kita tak boleh sewenang-wenang dengan rakyat Non Muslim. Karna mereka pun sama dengan kita, manusia punya akal, punya Hak dan Kewajiban hanya saja kepercayaan keimanan dan Tuhan kita berbeda. Namun, mereka tetap saudara kita sebangsa dan setanah Air.

Sahabatku, marilah kita eratkan kembali sila yang ke-3 yakni “Persatuan Indonesia”. Sebab, jika kita tidak mau bersatu, para oknum yang berideologikan Radikal akan dengan mudah menyeludup ke Indonesia ini. Apakah kalian mau Indonesia yang kita cinta ini menjadi porak poranda seperti halnya Syiria, Palestina, Libya dan lain seagainya? tentu Tidak, kan?. Pikirkan kembali masa depan kalian apabila kalian tidak mau bersatu, apakah masa depan kalian akan terjamin? sedangkan Indonesia sedang dilanda Terorism? Fasilitas negara Hancur lebur tanpa sisa, negara hancur porak poranda, kalian bisa membayangkan bagaimana sakitnya?

Saya punya teman, beliau bernama Ahmad bin abdul kareem, orang Palestina. Dia, dan keluarganya dulu hidup tenang, seketika itu menjadi berubah drastis. Keluarganya hilang ditelan bom gaza, kini dia tinggal sendirian dan hanya menanggung rasa kesedihan. Kawan, apakah kau mau seperti itu? tentu tidak. kemarin, saya dikirimi sebuah foto dimana ada seorang dari Indonesia berdiri diantata reruntuhan gedung sisa pengeboman di syiria. Disitu tertuliskan “Indonesia, jagalah Pancasila dan UUD 1945 jika tak mau negaramu hancur seperti ini”. Sungguh miris melihat keadaan yang hancur lebur seperti ini. Hal ini tentunya didasari karna di negara tersebut kurang erat rasa kesatuan dan persatuan, rakyat egois sewenang mereka sendiri, ideologi radikal dan Islam garis keras menyebarluas tanpa ada perlawanan, itulah hal yang membuat mereka (read. teroris/ISIS) berkembang cepat dan pesat, sehingga memporak porandakan negara tersebut.

Kawan, mari kita belajar untuk Indonesia. Belajar dari negara Singapura, kenapa begitu ketat dalam jalur keluar masuknya. Belajar dari China, kenapa disana mayoritas non Islam, namun Islam tetap merasa tenang dan nyaman dan dihormati oleh etnis china. Belajarlah dari ekonomi pesat Arab saudi, belajar dari tragedi teror Malawi, dari tragedi teror Syiria, tragedi bom Mancester United, Belajarlah dari peristiwa-peristiwa tersebut, supaya kita kedepannya lebih bisa waspada dan hati-hati.

Kawan, yuk mari kita eratkan lagi langkah dan tujuan kita bersama untuk Indonesia. Untuk masa depan kita, masa depan anak cucu cicit kita, masa depan generasi penerus estafet kepemimpinan NKRI ini. Mari kita ajak keluarga kita, teman teman kita, saudara saudari kita untuk selalu mencintai NKRI. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan mulai saat ini. Ingatlah kawan, “Mereka yang tak se-Agama dengan kita juga adalah saudara kita walaupun bukanlah saudara se-Iman. Mereka adalah saudara kita setanah air. Maka, sayangilah dan cintailah mereka. Karna Islam itu Agama yang penuh “Cinta”..”

Teman teman, taukah kalian yang paling rawan didoktrin ideologi radikal Islam garis Keras adalah yang berusia Anak-anak SD hingga berusia Mahasiswa.  Jadi, kita harus bimbing diri kita sejak dini, bimbing adik adik kita supaya tidak mudah terpengaruh ideologi radikal yang ekstrem. Bimbing dan ingatkan kawan kawan kita supaya tak mudah tergiur dan terjerumus ke arah pergaulan yang ekstrem. Perbanyak mempelajari buku-buku tentang Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, Perbanyak membaca kitab-kitab klasik, perbanyak membaca buku mengenai Sejarah NKRI, dan jangan lupa belajar sekilas saja mengenai Bahaya islam dan ideologi radikal garis keras. Supaya kita kedepan bisa terus berhati-hati dan mewaspadai.

Terimakasih sahabat, sudah berkenan membaca tulisan saya yang amat panjang. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam menuliskan kata, mohon koreksinya sahabat.

Wallahu’alam bishowab

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuhu

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar