OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Mengembangkan Diri Dengan Berpijak Pada Tradisi

Sebagaimana yang kita pahami bersama, saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada sejumlah persoalan krusial, seperti kemiskinan, korupsi, terorisme dan sebagainya. Disinilah kekuatan masyarakat memiliki peran yang besar dalam memperkuat proses pembentukan bangsa Indonesia yang beradab.

Dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan pendidikan di Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren telah menjadi semacam lokal genius. Nurcholis Madjid (cendekiawan muslim, akademisi), mengatakan bahwa seandainya negeri ini tidak mengalami penjajahan, tentu pertumbuhan sistem pendidikan di Indonesia akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren.

Kita masih ingat dengan nilai-nilai pesantren yang dikenal dengan istilah “panca jiwa” pesantren yang meliputi: pertama, jiwa keikhlasan, kedua, jiwa sederhana (tawadhu’) tetapi agung, ketiga,  jiwa ukhwah islamiyah yang demokratis, keempat, jiwa kemandirian dan kelima, jiwa bebas dalam memilih alternatif jalan hidup dan menentukan masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimis menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan berdasarkan nilai-nilai Islam. Inilah yang kemudian melekat dalam jiwa santri yang berada di pesantren. Dan jiwa-jiwa inilah yang kemudian dibutuhkan di masyarakat sekarang ini. Tetap rendah hati, tidak gila akan jabatan dunia dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam sehingga tidak terjebak oleh gemerlapnya dunia sehingga ketika sudah di masyarakat tidak menjadi orang yang kagetan dan melikan.

Dalam konteks itulah NU telah merumuskannya dalam bentuk: pertama, NU telah merumuskannya dalam bentuk mabadi’u khaira ummah (prinsip dasar umat yang terbaik), yang didasarkan pada orientasi moral untuk perubahan sosial ekonomi masyarakat. Kedua, NU sejak semula memberikan kontribusinya dalam wawasan keagamaan moderat dan ikut mendorong dalam pembentukan ide kebangsaan. Dalam ranah keagamaan NU merumuskan tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (keseimbangan) dan I’tidal (keadilan). Inilah yang menjadi sikap dasar NU dalam merespon isu-isu di tanah air. Ketiga, kaitannya dengan konteks ini NU menerima Pancasila sebagai dasar negara dan sudah bentuk final, tidak bisa diganggu gugat. Ini diperkuat dengan kesetiaan NU terhadap ide-ide kebangsaan yang menjadi titik tolak dalam mendesain negara Indonesia. Yaitu bentuk negara kesatuan sebagai bentuk negara yang paling ideal bagi bangsa Indonesia. Konsep ini sejak lahirnya NU telah dikumandangkan oleh para pendirinya, seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah. Oleh karena itu, meskipun ide globalisme Islam terus dikumandangkan hingga sekarang ini, NU kokoh dengan ide kebangsaannya. Bukan negara khilafah yang dipikirkan oleh NU dalam membangun keadaban bangsa Indonesia, melainkan negara bangsa Indonesia yang berideologi Pancasila. Maka dari itu, NU tetap memegang semboyan “ علي قدم الصالح والاخد باالجديد الاصلاح المحافضة ”.

 Oleh : Imam Syahrul Romadon (Sekretaris PAC IPNU Kecamatan Cilongok)

Editor: Humam Fauyi

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar