OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
OPINI 18/10/2017 8:24

Permata di Cakrawala

Pada suatu ketika sebelum Aku bersekolah di SMK Ma’arif Walisongo teringat lembaran masa lalu pada masa kecilku yang kurang bahagia. Nurani dan akal sehatku berkata kepadaku dunia ini hanyalah panggung sandiwara, kata itu terus berputar di kepala ini. Hal pertama yang menyedihkan dalam hidupku ini ketika waktu SD kelas dua. Aku menghadapi penyiksaan mental yang dilakukan oleh guru. Aku tahu bahwa metode pembelajaran dimasa itu hal yang lumrah, namun yang dilakukan oleh guru itu sungguh tidak bermoral. Dia sering berkata kotor kepadaku, bahkan lebih buruknya lagi dia berkata padaku dasar otak kebo. Hal itu terjadi ketika aku tidak bisa menghafal cerita. Tidak hanya itu, hantaman kuhadapi dari teman-teman sekelasku yang membullyku  sehingga diriku suka menyendiri.

Hal ini ditambah oleh orangtua yang kurang memperdulikanku, bahkan ikut menyakiti hatiku ini. Terkadang terpikir didalam hati ini, apa gunanya hidup ini kalau untuk disakiti. Rasa ingin kulawan takdir yang merantaiku, menyiksaku hingga semangat mulai memudar ditelan oleh kegelapan kesedihan yang menutupi keinginan untuk berprestasi yang harusnya dipunyai pelajar. Lingkungan ini telah banyak merusak karakter dalam diriku ini. Sampai menginjak bangku SMP, aksi ini tetap berlanjut namun aku menemukan suatu hal yang tidak ditemukan oleh teman-temanku untuk mengisi kesendirianku ini. Aku membaca buku di perpustakaan sekolah, lalu aku telah menemukan teman yang paling setia didunia ini.

Aku berpikir kenapa Allah SWT memberi kesediriaan dan kekacauan di keluargaku ini? Nurani ini berkata kepadaku ”Allah hendak memuliakanmu, sesungguhnya Ia tidak membenciku dan tidak meninggalkanku, perlu diketahui akhir itu lebih baik dari permulaaan.” Sehingga pada suatu ketika, sering aku membaca surat kabar di perpustakan sekolah tentang penderitaan orang-orang diluar sana yang bermacam-macam penderitaan yang dialami, tapi itu belum sepenuhnya melegakan hati ini.

Hingga lulus dari SMP aku bertemu seorang bernama Muhammad Adnan yang juga dihantam masalah keluarga dan pembullyan yang dilakukan temannya. Dia mengajariku arti hidup ini yang perlu diperjuangkan pantang menyerah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Juga bertemu dengan Bapak Maksum yang mengorbankan diri untuk kesempatan besar ke luar negeri demi SMK, demi anak-anak yang tidak tahu arti belajar. Dia berkata kepadaku “Janganlah tersakiti dan merasa terkucil oleh teman-temanmu” sambil menepuk bahuku lalu membelai kepalaku dengan lembut seperti anaknya  sendiri. Hal yang tak pernah kurasakan selama ini. Walaupun hingga kini Aku tetap merasakan kesepian, tapi aku tidak boleh menyerah dengan keadaan, tetaplah kepada jalan Allah SWT yang lurus.

Oleh: Saesar Wahid/HF

PK IPNU SMK Ma’arif Walisongo Kajoran, Kabupaten Magelang

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar