OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Sejenak Melepas Penat Sambil Bernostalgia Di Kampung Halaman

Udara yang sejuk di antara rimbunan pohon “Asem jowo” yang besar rimbun serta berdaun lebat. Kurasakan nikmatnya angin sepoi yang menjadi inspirasiku untuk mengutarakan isi hati dan fikiranku dengan goresan tinta hitam di selembar kertas putih yang suci ini. Tepat di tempat ini aku menghabiskan masa kecilku yang indah itu. Bersama mereka sang tokoh idolaku, Ayah Ibu beserta Ketiga Kakakku.

 Teringat waktu itu, ketika aku masih kecil, Ibu selalu membawaku kemanapun aku pergi. Tak pernah meninggalkan aku. Karna aku adalah anak terkecil saat itu. Teringat masa kanak-kanakku yang penuh keceriaan dan kasih sayang. Ke-tiga kakakku yang selalu menemaniku dimanapun aku berada, selalu menjagaku, Kini beranjak sudah. Aku sudah mulai dewasa dan sibuk dengan urusannku sendiri, begitu pula ketiga kakakku yang mulai sibuk bekerja untuk kehidupan mereka nantinya. Terkadang sampai kami lupa waktu,

 Teringat ketika itu aku dititipkan di sebuah pesantren modern di sebuah kota. Aku masih ingat ketika ibu berkata padaku “.. Nduk, sekarang kamu berada di pesantren, Ibu harap kamu nantinya keluar dari pesantren ini bisa jadi orang yang berguna, tak perlu hebat, yang paling penting kamu bisa memberikan dampak positif kepada masyarakat dengan ilmu yang kamu dapatkan di pesantren ini. Teruslah belajar, jangan menyerah, ibu mendukung dan mendo’akanmu meski nanti ibu tak dapat menatap wajah manismu lagi, Nduk… seng sregep!!” Petuah ibu yang selalu ku ingat hingga saat ini.

    Tak ku sangka, bahwa ternyata itu adalah terakhir kalinya aku bertemu ibu, selama hampir setahun aku berada di Pesantren ini, tak pernah ku dengar kabar sang bidadari surga itu, tak pernah ku tatap wajahnya yang sudah mulai berkeriput karna umur, badannya yang kecil dan kurus sebab sudah 12 Tahun lamanya menderita Diabetes. Sungguh sangat ku sesalkan hingga kini, setiap pulang dari pesantren aku hanya bertemu ibu sesekali saja sebab aku tinggal bersama kakek ku.

   Selang berapa bulan ketika aku merintih kesakitan di sebuah rumah sakit, aku tak pernah berfikir jika sang “Bidadari surga” itu lebih dahulu pulang sebelum aku menyelesaikan sekolahku. Padahal aku ingin sekali ketika aku bisa Khatam Al-Qur’an Bil-Ghoib 30 Juz nanti, ibu bisa hadir ke prosesi itu. Namun takdir berkata lain, belum sempat aku mengkhatamkan kitan suci ini, impianku tinggal kenangan. Ibu sudah tak ada. Aku sangat menyesal. Kenapa kala itu aku tidak memutuskan untuk tinggal bersamanya. Namun menangisi hal yang sudah tiada itu sama saja sia sia. Tak mungkin ibu bisa hadir memelukku ketika aku rindu, Menasehatiku, menemaniku ketika aku kesepỉan. Namun aku sadar, sekarang aku bukan lagi anak kecil. Aku sudah dewasa, tak payah harus selalu menangisi kepergian ibu. Ada baiknya ibu pergi, aku sudah dewasa, aku harus bisa mandiri.

  Kini hanya tersisa kenangan lama itu. Kenangan yang tak akan pernah ku lupa. Namun, bayangan itu selalu menemaniku, selalu bersamaku. Pernah kurasa bosan dan muak dengan hidupku saat ini, pernah aku coba bunuh diri. Namun semua itu tak berarti, semua itu tak berarti. Yang ada hingga saat ini rasa depresi, depresi yang mengganggu ketenangan jiwa ini.

  Kini, sudah tiga tahun lamanya tak ku lihat Bidadari surga itu, yang ku temukan hanya sebongkah batu nisan tua bertuliskan namanya yang telah kekal. Tepat di bawah pohon “Asem jowo” ini tempat segala kenanganku bersamanya. Tuhan, tolong kirimkan salam berjuta maafku kepadanya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu Ibu. “Allahummaghfirli dzunubi waliwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayani saghiro, Oh Allah, Forgive me and my parents, Bless them Bless them as they care me when i was baby” Hanya itu doa yang selalu ku lantunkan untuknya. Tuhan, ampuni dosa-dosanya, Ridhoilah dia menetap di Surga-Mu, Pertemukanlah kami di Surga-Mu kelak. Aamiin yaa Allah Rabbal ’Aalamiin. (Vinanda febriani)

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar Berjuang Bertaqwa

Komentar