OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Semoga Indah Kau Anak Pebawa Angpao

Tiga puluh menit lalu terdengar kumandang adzan dari pojok masjid, tiba-tiba teringat departure bus tujuan kotaku terjadwal pukul 19.00 WIB, segera kurapikan barang bawaan dan bergegas menuju terminal. Satu tas pakaian dan satu kantong plastik kubawa dengan penuh rasa khawatir. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke terminal, hanya sekitar 15 menit perjalanan aku sudah sampai di terminal. Sedikit berkurang rasa panikku saat  sejenak kupandang semua bus yang berjejer dan kutemukan bus yang akan aku tumpangi.

Suara serak dengan lantangnya tiba-tiba terdengar dari gerombolan bus, ternyata itu kondektur yang mengintruksikan semua penumpang untuk segera naik karena bus sebentar lagi akan jalan. Dengan tergesa-gesa kunaiki tangga bus, semua orang dalam bus terlihat sibuk menata barang di box bagasi atas. Kususuri kursi demi kursi mencari nomor kursiku, dan akhirnya kudapati kursi bagian belakang ketiga. Lampu dalam bus menyala terang kemerah-merahan, nafasku keluar masuk begitu cepat karena terburu-buru mengejar bus.

Kurapikan barang bawaan di bagasi dan sebagian kuletakkan dibawah kursi. Kurebahkan tubuh sembari  kurenggangkan otot-otot nadi. Bus tak kunjung bergerak, pak kondektur terlihat masih sibuk didepan pintu, kumainkan gadget teringat belum kukabari orangtuaku.

Sesaat ku terdiam, tiba-tiba terlihat pengamen, pedagang asongan, dan beberapa orang membawa kantong plastik datang berurutan. Riuk  suara tak beraturan mempromosikan barang dan jasa masing-masing. Satu persatu mereka lewat disampingku, ada satu dari mereka yang membuatku tak senang dengan memaksa barang daganganya.

“Maaf mas, sudah kubilang, aku tak mau membeli daganganmu!” bentaku sambil sedikit menarik otot mata. Tanpa komunikasi lebih lenjut, dia langsung berpindah menawarkan dagangannya di kursi belakangku. Pengamen menyodorkan kantong berisi uang receh, kumasukan saja lembar ribuan yang telah kupersiapkan. Satu persatu meraka lewat di sampingku, seorang ibu membawa minum-minuman dan menawarkan padaku.

“Minumannya mas, mumpung belum jalan” tawar ibu asongan. “Maaf  Bu, sudah ada air, terima kasih” jawabku dengan mencoba bersikap lembut. Ibu itu tak berusaha memaksaku, kukira semuanya telah turun dari bus.

Aku terkejut melihatnya, seorang anak dengan kusutnya membagikan angpao kosong, sudah pasti berharap semua orang mengisinya dengan rupiah. Kupandangi saja anak itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tiba-tiba datang perasaan aneh saat kupandangi kaki dari anak itu.

Terdiam ku memikirkan hal itu, terlintas di benakku “Sepertinya aku kenal dengan kaki itu.” Rasa penasaran semakin menjadi-jadi menghampiriku, pertanyaan-pertanyaan silih berganti terlintas dibenakku, semakin fokus kupandangi ”Yaa, aku pernah melihat kaki itu sebelumnya, tapi dimana dan siapa?”  gumamku dalam hati.

Sopir bus terlihat sudah menyalakan mesin bus, menandakan bus segara berangkat.  Anak itu terlihat lebih terburu-buru membagikan angpao yang dia bawa, saat melewati kursiku tanpa melihat wajah langsung ia lemparkan saja angpao kosong itu. Aku tertegun saat melihatnya dari jarak dekat “Yaa, aku pernah melihatnya, itu kaki adiku, kaki anak itu sama seperti kaki adikku yang selalu tertawa bahagia bersama dirumah, tapi kenapa anak itu tampak tak bahagia?” pikirku penasaran.

Supir menginjak gas, bus bergetar ditempat. Anak itu dengan segera terburu-buru dari arah belakang dengan mengambil angpao satu-persatu. Sampai di kursiku, ia hendak mengambil angpao dariku, kuberikan angpao yang telah kusisipkan satu lembar uang lima ribuan, tak kubiarkan begitu saja dia mengambilnya.

“Dek, siapa yang menghendaki kamu untuk seperti ini, dimana orangtuamu?” tanyaku pelan dengan nada tegas dan cepat lantaran kondektur sudah siap menutup pintu depan. “Orangtuaku yang menyuruhku begini kak, aku tak bisa apa-apa” jawabnya sambil menjauhi kursiku.

Tak semua angpao diambilnya kembali, dia berlari mengejar pintu sebelum kondekur menutupnya. Terdengar suara dobragan pintu, anak itu sudah pasti turun dari bus, kondektur memberi instruksi kepada sopir menandakan bus siap memulai perjalanan. Bus melaju dengan kecepatan rendah meninggalkan terminal, namun pikiranku belum beranjak dari anak pembawa angpao tadi.

“Pendidikan mental yang luar biasa yang diberikan orangtua anak itu, sampai-sampai usia belia sudah berani bekerja di terminal dengan tanpa malunya.” Hal yang masih menjadi pertanyaan di benaku “Ada apa dengan orang tuanya? Kenapa anak sekecil itu sudah berjuang melawan kerasnya ekonomi, apa memang dia ikhlas membantu orangtuanya, ataukah dia ada yang memaksanya bekerja sebagai anak pembawa angpao?” Kupejamkan mata dan hanya berdoa, semoga indah masa depanmu wahai anak pembawa angpao.

Oleh: Moch. Andi Apriyanto

Editor: Humam Fauyi

 

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar