OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
NEWS 26/05/2017 7:22

Surga untuk para teroris

Surga untuk para teroris

Oleh : Slamet tuhaeri

Ketika hari pembalasan tiba, beberapa orang teroris dikumpulkan dalam sebuah kelompok khusus dan dipisahkan dari yang lain. Mereka pun merasa diistimewakan, seperti halnya ketika dipenjara di dunia, mereka juga dibuatkan tempat khusus. Dengan bangga mereka mengatakan kalau untuk mereka yang “berjihad di jalan Allah” , maka surga yang akan diberikan adalah surga yang tertinggi. Begitu yakinnya mereka dengan surga yang akan diperoleh, sampai-sampai mereka begitu sinis dengan manusia yang lain.

Setelah selesai memasukkan ke surga dan neraka untuk seluruh manusia, tibalah saatnya sekelompok teroris itu akan diputuskan, masuk surga atau neraka. Akhirnya diputuskanlah bahwa mereka akan masuk neraka, semuanya tanpa terkecuali. Mendengar keputusan itu pun mereka protes kepada Allah. Mereka seolah tak percaya dengan keputusan yang diberikan kepada mereka yang telah merelakan jiwa raga untuk “membela agama Allah”.

“Ya Allah, mengapa kami harus masuk neraka? Bukankah janjimu jika orang-orang yang merelakan jiwa raganya untuk berjihad di jalan-Mu akan diberikan surga? Kami telah berjuang membela nama-Mu, kami sudah berusaha dengan merelakan nyawa kami untuk memerangi para toghut, kafir dan orang-orang yang tak mau memakai hukum syariat-Mu. Sewaktu hidup, kami telah rela meninggalkan anak-anak dan isteri kami demi berjihad di jalan-Mu,” ucap teroris itu, sambil terisak-isak.

“Bahkan kami sampai perangi orang-orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau menggunakan hukum-Mu di muka bumi. Kami juga telah perangi mereka yang menyekutukanmu, kami hancurkan makam nabi-Mu karena kekhwatiran kami, mereka akan musyrik kepada-Mu. Apa kami bukan termasuk golongan ahli surga?” Tanya seorang teroris yang tak percaya mendengarkan keputusan Allah yang memasukkannya ke dalam neraka.

Mendengar pembelaan mereka, Allah pun akhirnya memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Mereka pun tertawa riang. Tak lama berselang, dari kejauhan terlihat seorang kiai kampung yang tengah asyik menikmati hidangan surga sambil bercengkerama dengan anak cucunya dan isterinya.

Melihat hal itu, mereka pun menilai bahwa Allah tidak adil, mengapa kiai kampung yang selalu berbuat bid’ah itu bisa masuk surga? Mereka pun mendekati kiai kampung itu untuk bertanya alasannya bisa masuk surga.

“Wahai kiai kampung, bukankah dulu selama di dunia kerjaanmu berdoa di kuburan yang itu bid’ah? Anda juga mengajarkan kepada orang-orang kampung untuk syirik dengan mendewakan para ulama, saya kira harusnya anda tidak di surga. Di surga adalah tempat orang-orang yang seperti kami, pejuang di jalan Allah.” Ucap seorang teroris kepada kiai kampung itu.

“Tenang mas jangan ngotot, level surga kita berbeda kok.” Jawab kiai kampung itu dengan santai.

“Tentu saja beda, karena kami para mujahid. Bukan seperti kamu.”

“Oh ya, apa kalian tahu di mana surga kalian?”

“Tentu saja surga kami berada di tempat tertinggi.”

“Lalu mengapa sampai sekarang kalian belum dimasukkan ke surga kalian?”

“Surga kami sedang dipersiapkan, karena beda dengan surgamu.” Jawab si Teroris dengan sombongnya.

“Kalian harus ingat, bahwa amalan manusia yang menjadikannya masuk surga dan Allah akan membalas setimpal amalan kita. Jadi apa kalian tahu, surga yang akan dihuni kalian adalah balasan atas perbuatan kalian semasa di dunia?”

“Tentu saja kami tahu kiai, kau tak usah mengajari kami.”

“Saya tidak mau mengajarimu, sya cuma mau memberi tahu. Tadi saya dapat kabar kalau surga yang akan ditempati kalian setiap 5 menit sekali akan dibom. Sama seperti yang kalian lakukan dulu ketika di dunia. Menghancurkan surga-surga Allah di muka bumi.”

Mereka pun tak bisa menjawab apa-apa hingga kemudian mereka pun dipanggil untuk memasuki surga yang dijanjikan. Dan benar saja, 5 menit setelah masuk ke surga, terdengar suara ledakan yang begitu keras. Begitu seterusnya, setiap 5 menit sekali surga yang ditempati para terorispun diluluhlantakkan. Begitulah dialog imajiner itu.

#SurgaYangTakDirindukan #PrayForJakarta

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar