OFFICE :Gedung PBNU Lt. 5 Jl. Kramat Raya No. 164
CALL :08155555754
Tradisi Kampungku Dikala Malam

Wonosobo – Tempat tinggalku berada di Dukuh Polowono Bawah, RT 02 RW 10, Desa Jangkrikan, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Bisa

dikatakan desaku adalah salah satu desa pelosok di daerah perbatasan antara Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Purworejo. Jarak desaku menuju pusat kota sekitar 32 km dengan akses jalan yang sudah bagus karena kebetulan desaku dilewati jalan provinsi. Sebagian besar masyarakat disini bermata pencaharian sebagai petani dan buruh pabrik, sebagian yang lain lebih memilih merantau di luar kota. Khusus kampungku, pekerjaan kaum bapak setiap harinya adalah bertani dan kaum ibu lebih memilih untuk menjadi buruh pabrik di pabrik kayu milik salah satu pengusaha ternama di kabupatenku. Sedangkan para muda-mudi kampungku lebih suka merantau keluar kota sebagai buruh bangunan, assistant rumah tangga maupun karyawan swasta. Sudah menjadi tradisi memang setelah lulus SMP/SMK langsung merantau, jadi maklum kalau kampungku selalu sepi tidak seperti di perkotaan yang ramai oleh muda-mudinya.
Berbicara sisi lain dari kampungku, masyarakat disini masih sangat kental dengan berbagai macam ritual & tradisi keagamaan. Yang pasti, semua tradisi yang ada di kampungku adalah tradisi warisan para pendakwah Islam tanah Jawa yaitu Walisongo. Bahkan, disini masih berlaku berbagai macam kepercayaan kuno (mitos) seperti harus mengucapkan “Klamit Mbah” (ucapan permisi dalam bahasa jawa untuk orang tua yang sudah kakek / nenek) jika melewati jalan disamping makam punden (makam/petilasan sesepuh kampung), tidak boleh buang hajat / membuat jamban yang menghadap ke makam punden, dan kepercayaan adanya jin penunggu pertigaan jalan masuk kampungku. Konon cerita & memang dipercaya karena berbagai bukti jika ada orang baru yang akan ke kampungku akan tersesat ke kampung tetangga, dan sebaliknya ketika melewati pertigaan masuk ke kampungku. Konon dulu ada cerita ketika penjajah Belanda ingin ke kampungku, ketika mereka sampai di pertigaan tersebut mereka bingung, akhirnya mereka tersesat sampai ke kampung tetangga.
Di kampungku, ada tradisi pengajian rutin yang dilakukan oleh masyarakat pada malam-malam tertentu. Pada malam Selasa, para bapak melaksanakan “Berjanjenan” (pengajian kitab Al-Barjanji), sedangkan para ibu melaksanakannya pada malam Minggu. Pada malam Rabu, ada pengajian “Rebo-an” (pengajian mujahadah) oleh sebagian para bapak. Sedangkan malam Jum’at dilaksanakan pengajian “Tahlilan” (pembacaan tahlil & surat Yaasiin) yang dibagi menjadi dua jamaah karena hampir seluruh kepala keluarga di kampungku ikut. Khusus malam Jum’at Kliwon (hari pasaran Jawa) dan malam Selasa Kliwon ada juga jamaah yang melaksanakan pengajian “Yasinan dan Mujahadah” di makam punden yang dimulai pukul 24.00 tengah malam. Untuk anak-anak sendiri setiap sore mengaji di TPQ yang ada di kampung sebelah dan tiap bakda maghrib sampai bakda isya’ mengaji juz’amma, Al-Qur’an dan kitab-kitab kuning di rumah kyai kampungku. Setiap Kamis sore, beberapa orang mendatangi makam untuk berziarah, bersih makam, tabur bunga dan kirim tahlil untuk saudara/orangtua yang sudah meninggal.
Selain pengajian rutinan tadi, ada beberapa pengajian rutin khusus yang biasa dilakukan masyarakat kampungku. Ada tradisi pengajian “Ngapati” untuk selamatan ibu hamil 4 bulan serta pengajian “Keba” atau ngebani untuk selamatan ibu hamil yang sudah 7 bulan. Setelah bayi lahir umur 7 hari, ada tradisi pengajian “Puputan” untuk keselamatan sang bayi dan biasanya sekaligus untuk memberikan nama pada jabang bayi. Dalam kebudayaan Islam, selamatan ini dinamakan aqiqah dengan menyembelih kambing, sedangkan pengajian puputan dengan semampunya yang punya hajat. Ketika ada kematian, ada pengajian rutin selama 6 hari setiap malamnya, dilanjut pengajian “Mitung Ndina” di malam ketujuh. Berlanjut pengajian “Matangpuluh” di malam ke 40 hari si mayit serta pengajian “Nyatus Dina” dimalam ke 100 hari kematian mayit. Setelah itu ada pengajian “Mendak” atau yang biasa dikenal khaul setiap tahunnya serta ada pengajian “Nyewu” di malam ke 1000 hari kematian mayit.
Semua pengajian khusus tadi yang pasti dibersamai dengan “besekan/takir” yang berisi makanan sebagai sedekah dari yang punya hajat untuk jamaah yang menghadiri pengajian. Dalam membuat takir biasanya disesuaikan dengan kemampuan sohibul hajat serta tradisi yang berlaku. Masih banyak pengajian khusus yang lainnya seperti pengajian “Slametan” ketika punya kendaraan/barang baru berupa mesin. Ada juga pengajian “Genduren” ketika orang punya hajat khitan/nikah. Semua tradisi pengajian itu adalah warisan dari sesepuh desa dan rutin dilaksanakan serta diwariskan secara turun temurun. Dan biasanya, semua pengajian itu dilaksanakan pada malam hari di rumah sohibul hajat.
Ternyata, semua tradisi pengajian itu punya banyak sekali manfaat untuk masyarakat. Disamping menjalankan rutinitas amaliyah Islam ahlussunnah wal jamaah, forum pengajian tersebut juga menjadi ajang masyarakat untuk bersosial kepada tetangga. Dengan menyajikan hidangan saat pengajian, itu berarti sudah terhitung sedekah dan berbagi rezeki maupun kebahagiaan kepada tetangga. Apalagi ketika pengajian yang “berkatan”, sungguh bahagia hati seorang anak di pagi harinya ketika tahu sang ayah mendapat “berkat” (takir/besek) dari pengajian semalam. Sungguh pahala yang luar biasa ketika membuat bahagia anak kecil, teringat bahagianya diriku dulu ketika bapak pulang pengajian mendapat berkat. Pada kesempatan tertentu, forum pengajian itu juga dijadikan sebagai ajang untuk musyawarah membahas berbagai hal penting dan vital di masyarakat. Bahkan sekarang sudah biasa setelah pengajian selesai dilanjut dengan sosialisasi dari para pamong/perangkat desa untuk mensosialisasikan setiap kebijakan pemerintah maupun informasi-informasi penting yang harus diketahui oleh masyarakat.

author IPNU Jakarta Pusat

Belajar, berjuang, bertaqwa

Komentar